picture

Hingga saat ini banyak ulasan yang tiada henti memperdebatkan antara kerja keras vs kerja cerdas. Kedua model kerja ini memang tampak sama-sama memiliki makna yang positif. Namun, mana yang sebaiknya menjadi prioritas? Mari kita mulai dari ulasan tentang definisi kedua model kerja tersebut.

Kerja keras merupakan cara kerja dengan kebutuhan energi dan waktu yang lebih banyak. Sedangkan kerja cerdas merupakan cara kerja dengan kemampuan dalam merencanakan, memformulasikan, mengartikulasikan, mengimplementasikan dan mengevaluasi pekerjaan. Singkatnya, kerja keras mengandalkan fisik dan kerja cerdas mengandalkan otak. Kerja keras selalu menuntut tubuh untuk tetap fokus selama bekerja dan biasanya dalam durasi yang panjang. Hal inilah yang mendorong tubuh mengeluarkan energi maksimal untuk bekerja. Di sisi lain, kerja cerdas memberikan kebebasan dalam menentukan penyelesaian kerja yang dianggap paling efektif. Hal ini bertujuan untuk memaksimalkan kualitas kerja dengan cara menetapkan jadwal secara teratur.

Di kondisi pandemi saat ini, model kerja “Work Smart” atau kerja cerdas sangat cocok untuk diterapkan. Terlebih untuk para pekerja yang masih menjalani aturan bekerja dari rumah. Kepentingan kerja yang berbenturan dengan kepentingan rumah, tidak jarang menimbulkan stres. Dan dapat dipastikan akan mengganggu produktivitas dan bisa sampai mengganggu kesehatan mental. Oleh karena itu, bekerja dengan cara yang lebih fleksibel namun tetap memiliki jam kerja tertentu adalah pilihan yang tepat. Pekerjaan berjalan teratur sesuai deadline dan tubuh juga tetap memiliki waktu rehat yang menyenangkan.

Pernah mendengar istilah work-life balance? Istilah yang menggambarkan suatu keadaan di mana seseorang dapat mengatur dan membagi antara tanggung jawab pekerjaan, kehidupan keluarga, dan tanggung jawab lainnya. Kehidupan yang menjadi cita-cita bagi banyak pekerja, bahkan untuk seluruh manusia di dunia. Keseimbangan kehidupan kerja atau work-life balance ini menjadi aspek penting yang dipertimbangkan dalam mencari pekerjaan.

Menciptakan batasan yang jelas antara rutinitas kerja dan rutinitas kehidupan lain. Seusai jam kerja, para pekerja perlu melaksanakan hobi mereka dan meluangkan waktu untuk recharge energi. Menyediakan waktu untuk energy management dapat mencegah stres dan rasa lelah, terkhusus selama menjalani WFH. Datangnya pekerjaan yang menumpuk dan dikejar deadline dapat diantisipasi dengan memecah tugas menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Sehingga bisa dicicil tanpa menghabiskan waktu seharian serta energi dalam tubuh. Dengan mengantisipasi hal tersebut work-life balance akan lebih mudah tercapai.

Selain membagi tugas menjadi bagian yang lebih kecil, pekerja dapat melakukan beberapa tips kerja cerdas saat WFH dengan menentukan beberapa poin. Pertama , menentukan skala prioritas. Dengan membagi pekerjaan sesuai prioritas akan membantu dalam membatasi adanya tugas berat yang menumpuk dalam satu hari. Penentuan skala prioritas juga memudahkan dalam mengambil waktu rehat di tengah kerja. Kedua, menentukan tenggat waktu. Batas waktu pada setiap pekerjaan ini akan membuat lebih fokus untuk menyelesaikan tugas sesuai deadline. Ketiga, mengetahui waktu produktif. Waktu produktif merupakan waktu saat tubuh memiliki performance paling bagus untuk menyelesaikan pekerjaan. Gunakan waktu produktif ini untuk menyelesaikan tugas yang butuh konsentrasi lebih banyak.

Keempat, fokus pada satu persatu pekerjaan. Multitasking tidak selamanya membuat pekerjaan selesai lebih banyak. Seseorang tidak bisa mengerjakan banyak tugas dalam satu waktu sekaligus. Butuh waktu untuk pindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya. Multitasking justru membuat Anda hilang fokus dalam bekerja. Tips kerja cerdas terakhir adalah bangun ritme kerja dengan membuat to do list. Perencanaan ini akan memudahkan saat move dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Selain itu, pembuatan to do list sangat membantu untuk selalu fokus pada hasil dari satu demi satu pekerjaan yang telah diselesaikan.

Nah, itulah kelima tips kerja cerdas yang dapat membantu para pekerja untuk mencapai work-life balance yang diidamkan. Ingat, mencintai pekerjaan tidak harus dengan mengorbankan kehidupan pribadi kalian. Ada pembagian seimbang yang bisa kalian terapkan dalam mencapainya. Salah satunya dengan kerja secara cerdas. Yuk, mulai membiasakan diri untuk Kerja Cerdas!