picture

Tiga bulan pandemi Corona (covid 19) telah melanda dunia. Menjangkiti lebih dari 1.6 juta orang dan telah merenggut 99,8 puluh ribu jiwa secara global. Di Indonesia saja, berdasarkan data pada web resmi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid 19, covid19.go.id hari Minggu 12 April 2020, terdapat 4.241 orang terjangkit dan 373 orang meninggal dunia akibat virus Corona. Dan fakta yang tak menggembirakan adalah angka ini terus meningkat, baik secara global, maupun lokal, Indonesia.

Meski tak terhitung berapa jumlah pasti para ahli kesehatan dunia, relawan, juga aktivis sosial dan organisasi kesehatan dunia yang berwenang (WHO) yang telah melakukan berbagai langkah dan percobaan-percobaan obat untuk melawan virus Corona. Namun hingga kini belum ditemukan obat yang secara resmi disebutkan sebagai obat mujarab untuk meredam amukan virus Corona.

Konon sebagian ahli kesehatan mengatakan bahwa obat yang biasanya digunakan sebagai anti malaria, yaitu: chloroquine beserta turunannya hydroxychloroquine memiliki kemampuan paling efektif dalam menghambat penyebaran Corona. Beberapa waktu yang lalu, tokoh publik seperti Elon Musk juga Presiden Amerika, Donald Trump juga menguatkan pernyataan itu.

Namun demikian belum ada organisasi atau badan dunia yang berwenang secara resmi mengumumkannya. Bahkan Direktur WHO Tedros Adhanom dalam suatu kesempatan tak menyinggung keefektifan obat tersebut, ia hanya menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para ahli kesehatan dunia yang terus bekerja keras secara sistematik membantu meneliti 4 resimen yang diharapkan dapat menghadapi virus Corona.

Resimen yang dimaksud adalah remdesivir, obat antimalaria (chloroquine atau turunannya hydroxychloroquine), dua kombinasi obat HIV, dan kombinasi dua obat HIV tersebut dengan obat yang disebut anti-inflammatory interferon beta.

Ya, para ahli kesehatan dunia tengah berpacu dengan waktu, untuk melawan penyebaran virus Corona.

Menjaga jarak dan WFH

picture

Seiring dengan kerja kerasnya para ahli kesehatan dunia, kepala pemerintahan berbagai negara mulai melakukan langkah-langkah yang dianggap dapat menekan laju penyebaran virus Corona, salah satu langkah yang diambil adalah dengan memberlakukan kebijakan social distancing, pembatasan sosial.

Di Indonesia program ini mulai disosialisasikan pada minggu kedua bulan Maret 2020 lalu. Pada perkembangan selanjutnya, program ini ditingkatkan menjadi physical distancing, pembatasan pertemuan secara fisik.

Tak selang waktu lama, program ini diwacanakan akan dilanjutkan dengan program Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) secara nasional. Yang konon akan mulai diberlakukan pada awal bulan April 2020. Pemerintah daerah yang mulai memberlakukan PSBB adalah Pemprov DKI Jakarta, yang memberlakukan PSBB pada tanggal 11 April 2020 lalu. Menyusul kemudian adalah pemerintah daerah Bogor yang rencananya akan memberlakukan PSBB pada tanggal 13 April 2020. Himbauan yang diberikan adalah tetap berdaya dengan belajar, bekerja, dan beribadah di rumah aja.

Penerapan PSBB mau tak mau memberikan imbas bagi kalangan swasta dalam menggerakkan putaran roda operasinya. Bagi sebagian perusahaan kebijakan ini bisa jadi hanya terasa seperti pukulan-pukulan ringan yang dapat dengan mudah ditangkis atau dihindari dengan gesit. Sambil menangkis, ia masih bisa bebas bergerak mempertahankan laju perkembangan usahanya.

Namun bagi sebagian perusahaan yang lain bisa jadi gagap menghadapi pukulan ini, tak sempat menangkis dan hanya dapat melihat pukulan tersebut bersarang tepat dititik paling rapuh pada tubuhnya. Tak ayal pukulan ini membuat tubuh limbung dan berjalan terhuyung-huyung sibuk mencari pegangan.

Beruntung, kemajuan teknologi sekarang memungkinkan bekerja secara remote. Di dunia usaha, mulai bulan Maret, muncullah WFH (Work From Home). Meskipun sejatinya, istilah ini telah lama dimunculkan jauh sebelum itu. Pada tahun 1985, Robert Scott menuliskan istilah ini pada bukunya Office at Home yang berisi bagaimana strategi memberdayakan resources, self management, menghilangkan budaya menunda, dan strategi mengatur waktu. Mungkin agak berbeda, namun beberapa cara dapat diambil untuk melaksanakan WFH para karyawan.

Poin utamanya adalah bagaimana tetap dapat berdaya dan menyelesaikan tugas kantor dengan baik, meskipun harus tetap berada di rumah. Pertukaran file, kolaborasi, komunikasi, dan koordinasi dari jauh, sudah bukan menjadi hambatan lagi. Banyak pilihan aplikasi yang berbasis online, chat juga video chat, seperti: Google office, Google Meet, Whatsapp, Telegram, Google Duo, Google Hangouts, Zoom, Skype, imo, Line, Viber, Houseparty dan lain sebagainya memperkaya pilihan Anda. Bahkan ada aplikasi anyar yang juga menarik digunakan dan mulai menanjak penggunaannya, yaitu Ablo.

Belakangan, WFH dianggap sebagai pilihan paling tepat bagi perusahaan untuk dapat terus menjalankan operasi usahanya ditengah pandemi Corona. WFH bahkan semakin menjadi popular ketika social distancing, physical distancing, dan PSBB diberlakukan. Popularitasnya semakin melonjak naik mengikuti popularitas virus Corona yang telah mendunia sejak 2-3 bulan yang lalu.

Melakukan yang memungkinkan

Bagi kami, WFH mungkin menjadi hal yang baru. Banyak penyesuaian-penyesuaian yang perlu dilakukan. Tak hanya penyesuaian mengenai bagaimana tetap dapat menyelesaikan pekerjaan sesuai tenggat dengan baik, namun juga bagaimana dapat berperan aktif dalam penanggulangan pandemi Corona.

Kami hanya berpikir sederhana. Kami sadar tak banyak waktu yang tersedia karena virus Corona menyebar sangat cepat.

Di akhir minggu mulai penetapan WFH, kami secara swadaya mengumpulkan dana untuk membuat APD (Alat Pelindung Diri) yang akan disalurkan ke rumah sakit - rumah sakit dan puskesmas rujukan COVID-19. Dari dana yang terkumpul, kami berhasil membuat ratusan APD dan segera di distribusikan.

picture Proses pembuatan APD di kantor Ansvia Yogyakarta

Fokus kami saat itu hanyalah melakukan hal yang memungkinkan untuk dilakukan dengan resources yang ada. Tak bebas berkreasi memang, dan bisa jadi yang dilakukan juga tak dapat memberikan manfaat banyak. Namun setidaknya ada perubahan yang coba ingin kami tularkan.

Tiru saja bagaimana cara virus Covid 19 menyebarkan diri, dari satu ke sepuluh, dari sepuluh ke seratus, dari seratus ke sepuluh ribu, begitu seterusnya. Lakukan apa yang bisa dilakukan, kalau Anda bisa melakukan penyemprotan disinfectan, lakukan. Kalau Anda bisa menjahit masker, bikin dan distribusikan. Kalo Anda mampu membuat disinfektan mandiri, buat dan bagikan ke warga. Lakukan yang memungkinkan, itu saja.

Seandainya langkah pencegahan dilakukan dengan cara yang sama, kami yakin Corona tak kan dapat bergerak bebas. Jangan cuek dan menjadi covidiot. Corona adalah musuh kita bersama. Dengan semua orang ikut berpartisipasi, semoga Corona dapat segera teratasi.


picture Penyaluran APD buatan Ansvia ke RSUD Sleman

picture Penyaluran APD buatan Ansvia ke Klinik SWA

picture Penyaluran APD buatan Ansvia ke Rumah Sakit Sakina Idaman

picture picture picture APD telah digunakan oleh beberapa tenaga medis di Yogyakarta

Mari terus berbagi, mari berikan apresiasi dan terimakasih kepada semua pihak yang telah turut dalam penanggulangan pandemi Corona, tak terkecuali semua pihak yang membantu kelancaran distribusi APD. Berikut beberapa rumah sakit rujukan yang menerima bantuan dan masih terus berjuang melawan pandemi Corona dengan gigih:

  1. RSUD Sleman
  2. RS Sardjito
  3. RS. Bethesda
  4. Puskesmas Gamping
  5. RS Queen Latifa
  6. RS Panti Rapih Yogyakarta
  7. RSI Wonosobo
  8. RSUD Wonosobo
  9. Puskesmas Wonosobo1
  10. Puskesmas Kertek2
  11. Puskesmas Pembantu Bomerto
  12. Klinik Jawar
  13. RSUD Muntilan
  14. Klinik Swa
  15. RS Puri Husada
  16. RS Sakina Idaman
  17. RSA UGM
  18. Puskesmas Mlati
  19. Relawan covid19 Asrama Haji Yogyakarta
  20. Klinik NU Sewon Bantul
  21. PMI Bantul
  22. RS Bambanglipuro
  23. Sopir ambulance kota Bantul
  24. Puskesmas Sukoharjo
  25. RSUD Dr. Tjirtrowardojo Purworejo
  26. Puskesmas Bruno
  27. Puskesmas Sapuran