Kesenjangan tidak hanya berlaku dalam kehidupan sosial, saat ini, dunia bisnis juga dapat mengalami situasi serupa. Hadirnya berbagai tingkat generasi dalam dunia bisnis secara tidak langsung melahirkan adanya kesenjangan antargenerasi. Salah satu yang menjadi pengaruh besar adalah perkembangan teknologi.

Era teknologi 4.0 dengan segala tuntutaan yang ada menjadi tantangan sendiri bagi pelaku bisnis. Tidak hanya mengolah tujuan perusahaan, pengelolaan SDM (Sumber Daya Manusia) juga membutuhkan perhatian khusus. Karena tanpa disadari, keberhasilan perusahaan dapat terlihat dari keberhasilan mengelola SDM perusahaan.

Namun, kehadiran SDM dengan perbedaan tingkat generasi menjadi persoalan khusus yang harus dipecahkan dengan strategi yang tepat. Setiap generasi memiliki latar pengetahuan yang berbeda sehingga mempengaruhi perbedaan pada cara kerja, sikap kerja, dan sudut pandang.

Employee Engagement

Berbagai kondisi tersebut akan berdampak bagi proses operasi bisnis yang berjalan. Oleh karena itu, perusahaan harus mengimbangi dengan langkah yang startegis. Salah satunya dengan Employee Engagement.

Pernah mendengarnya?

picture

Employee Engagement merupakan pendekatan yang memungkinkan setiap karyawan menawarkan potensi dan kapabilitasnya secara lebih. Dengan menerapkan langkah Employee Engagement, perusahaan akan mengetahui sejauh mana potensi yang dimiliki karyawan dalam setiap generasi. Hal ini menjadi titik awal untuk mengelola SDM di perusahaan.

Terjadinya perubahan di berbagai bidang juga mempengaruhi cara kerja di perusahaan. Strategi yang dijalankan harus mengalami pembaharuan sesuai dengan perkembangan yang ada. Di sinilah Employee Engagement berperan penting sebagai jembatan untuk meningkatkan peluang kesuksesan bisnis. Membangun komunikasi dengan melibatkan karyawan akan mampu memperbaiki performa tim maupun individu, dan secara tidak langsung akan meningkatkan produktivitas.

Pendekatan Top Down

Strategi Employee Engagement ini mengingatkan saya pada kisah seorang teman yang bekerja di perusahaan textile.

Peran leader yang diemban menjadikan dia lebih berhati-hati dalam mengambil sikap. Anggota tim dengan perbedaan usia yang jauh lebih tua terkadang menghadirkan konflik-konflik kecil yang seketika menjadi besar. Titik permasalahan yang terjadi seringkali karena adanya pemahaman yang berbeda, yang kemudian beberapa tim memilih untuk resign.

Berkurangnya anggota dalam tim membuat pekerjaan tidak ter-manage dengan baik. Pekerjaan yang sudah terencanakan sesuai deadline yang disepakati tiba-tiba menjadi berantakan. Permasalahan yang timbul berimbas pada produksi perusahaan. Penambahan anggota baru akan memperlambat proses yang dikerjakan, karena memulainya dengan tahap pengenalan.

Karena harus segera diselesaikan, dia mencoba mengumpulkan semua anggota tim dan membahas permasalahan yang terjadi. Setiap anggota diminta untuk mengeluarkan pendapat dan memberikan masukan sehingga hasil penyelesaian dapat disetujui bersama.

Keterlibatan setiap anggota dalam tim kerja membuatnya lebih dihargai karena mereka merasa telah ikut memiliki tanggung jawab ketika mengambil keputusan.

Karyawan yang terlibat akan melahirkan perasaan bangga dan loyal menjadi bagian perusahaan. Perasaan nyaman dan persahabatan antar karyawan akan mulai terbentuk dengan mengembangkan hubungan rasa hormat antar jabatan atau generasi.

Perusahaan dapat memulainya dengan membuat rencana pengembangan individu untuk masing-masing karyawan tanpa membedakan generasi. Menyerahkan detail pekerjaan kepada karyawan akan membantunya dalam menerapkan ide yang mereka miliki dalam penyelesaian pekerjaan. Selain itu, perusahaan juga harus mendorong karyawan untuk selalu berfikir kreatif.

picture