picture >“Knowledge is the source of wealth. Applied to tasks we already know, it becomes productivity. Applied to tasks that are new it becomes innovation.” — Peter F. Drucker

Melakukan terobosan seringkali tidak bisa dilakukan secara sukarela. Bahkan tak jarang harus dengan memaksa. Dibutuhkan keberanian. Keberanian untuk menciptakan kondisi yang membuat semua orang tidak punya pilihan lain, selain ikut terus maju. Tidak bisa mundur lagi. Jika ada yang tak setuju, keluarkan dari perahu.

KM adalah salah satu bentuk terobosan. Peter Drucker, begawan manajemen modern dunia menyebutkan ada dua bentuk peranan penting dari knowledge yang secara signifikan dapat meningkatkan daya saing perusahaan. Yang satu berbentuk produktivitas, yang satunya akan berupa inovasi. Namun, kedua bentuk manfaat ini hanya dapat dinikmati oleh perusahaan yang dapat mengimplementasikan KM dengan baik.

Melanjutkan tulisan sebelumnya KM Summit 2019, untuk dapat mengimplementasikan KM dengan baik, komitmen dan dukungan top management menjadi salah satu peran kunci keberhasilan KM. Maka disinilah leader diharapkan dapat menunjukkan bentuk komitmen dan dukungannya.

Ketika leader memutuskan mulai menggerakkan perahu KM untuk berlayar, maka hanya ada dua pilihan: (1) menggunakan KM dalam menyelesaikan pekerjaaannya dengan baik sesuai tujuan perahu; atau (2) melompat keluar dari perahu sekarang juga. Tak ada pilihan lain lagi yang dapat diambil.

PR bagi Pegiat KM

KM adalah pendekatan terintegrasi untuk membuat, berbagi, dan menggunakan knowledge dalam meningkatkan produktifitas, profit, dan growth perusahaan. Selain dukungan leader untuk mencapainya, Pham Van Hong PhD (Vice Dean of School of Business Vietnam National University) menyebutkan, KM menggunakan 4 aspek lain sebagai sumber penggerak inti yaitu: people, leadership (governance), technology, dan processes.

Keempat sumber ini sangat tergantung pada kemampuan individu (individual capability) dan kemampuan perusahaan (organization capability) dalam menerjemahkannya, serta kemampuan sosial (societal capability) yang berdampak saat ini atau dikemudian hari.

Tak ada pilihan lain, pegiat KM wajib menyiapkan agen-agen KM-nya mengenal dan memahami knowledge dengan baik. Menghilangkan ketakutan-ketakutan pekerja yang mungkin akan memicu resistensi. Tantangan lain adalah untuk menciptakan budaya perusahaan untuk selalu terus belajar, berbagi, dan juga mudah melalui penyediaan lingkungan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Tantangan ini semakin menarik dan seolah menghadapi tembok besar pasalnya, Society Data sept 2018 menyatakan Indonesia disebut sebagai masyarakat yang memiliki budaya membaca yang rendah. Tentu menjadi beban berat ketika akan memberikan knowledge ditengah masyarakat yang tidak suka membaca?

Namun ada celah, We Are Social (Jan 2019) menunjukkan data yang menggairahkan. Pertama, ia menyatakan bahwa 56% masyarakat Indonesia berkomunikasi aktif di media sosial. Ini dapat berarti bahwa meskipun masyarakat tidak suka membaca, namun masyarakat tetap aktif berkomunikasi dan bertukar informasi melalui aplikasi media sosial. Kedua, data tersebut menambahkan 48% darinya mengaksesnya dari smartphone bukan dari browser laptop. Dan ketiga, akses internet di Indonesia mencapai 150jt pengguna, atau sekitar 56% dari total populasi di Indonesia.

Ya sebuah celah, pegiat KM dapat menumbuhkan dan menggerakkan KM melalui aplikasi. Aplikasi berupa corporate sosial media dengan fitur-fitur yang semenarik aplikasi media sosial.

Membuat more human aplikasi KM

>Reality … fears with KM because of … challenges!

Disrupsi merupakan era yang penuh dengan gangguan-gangguan dan ketidakpastian. Disrupsi membahayakan semua pemain. Bahkan, incumbents bisa saja terkapar tergilas gangguan. Kepemilikan dan kemudahan akses terhadap knowledge bisa menjadi secercah cahaya ketika menghadapi disrupsi. Tinggal bagaimana membudayaan penggunaan KM sebagai budaya perusahaan.

Celah teknologi telah terbuka. Melalui aplikasi corporate sosial media bisa menjadi sarana sebagai pemaksa budaya penggunaan knowledge yang menyenangkan. Mau tak mau, aplikasi harus berangkat dari kacamata karyawan, namun juga wajib memiliki fitur-fitur kebutuhan KM, seperti: (1) memberikan ukuran yang jelas terhadap progress pekerjaan; (2) membantu mengintegrasikan knowledge lintas departemen; (3) menyatukan berbagai departemen dalam satu kesatuan; dan (4) membantu membuat dan mencapai tujuan baru bagi perusahaan.

Salah satu aplikasi pendukung KM yang implementatif adalah Racta. Aplikasi ini konon dihadirkan khusus untuk membantu menciptakan budaya perusahaan (knowledge) melalui fitur-fitur menarik dan menerapkan kaidah-kaidah gamification. Racta meyakini, bahwa budaya perusahaan bukanlah sekedar mengenai apa yang dikerjakan, namun juga kepada bagaimana mengerjakannya.

Racta mengaplikasikan gamification yang dimanfaatkan sebagai pemicu motivasi pekerja. Sama seperti game pada umumnya, gamification juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti status, achievement, reward, mastery, self-expression, social interaction, competition, collaboration, dan seterusnya.

Racta juga menyederhanakan monitoring pengukuran kinerja karyawan. Masih menggunakan prinsip gamification, Racta secara gamblang memetakan kinerja pekerja selama satu tahun. Peta kinerja pekerja ini direpresentasikan dengan papan kalender yang diberikan warna merah, kuning, atau hijau. Warna hijau adalah warna yang diberikan jika pekerja berhasil menyelesaikan tugas dengan baik. Warna merah sebaliknya, adalah warna yang diberikan jika pekerja tidak berhasil mengerjakan tugas dengan baik.

Karyawan yang berhasil mengerjakan tugas-tugas dan pekerjaannya dengan baik, maka papan kalender yang dimilikinya akan penuh dengan warna hijau. Namun jika ia tidak berhasil menyelesaikan tugas-tugas dengan baik, maka papan kalendernya akan lebih banyak berwarna merah.

Bagi karyawan, peta ini akan mengeliminasi momok office politic yang meninggalkan pepatah "rajin malas, penghasilan sama". Racta akan memberikan secara transparan dan fair. Dan bagi pengambil keputusan, peta kinerja ini akan memberikan gambaran kinerja perusahaan.

Tak hanya itu, Racta mentransformasi aplikasi corporate sosial media secara dramatis. Racta mendukung microblogging, corporate chat, pengukuran kinerja, monitor progress pekerjaan, task manager, dan organisasi file yang killer!

Dalam corporate chat, ia menambahkan kemampuan organisasi file yang sangat pintar. Dalam task manager, ia secara pintar membuat group chat, menambahkan setiap orang yang terlibat pada proyek, kemudian menutupnya secara otomatis ketika suatu proyek selesai dikerjakan. Tak hanya itu, semua file yang digunakan dalam mengerjakan proyek disimpan rapi, terorganisasi dengan baik, dan mudah diakses.

Sebagai pengingat, meskipun sistem yang Anda miliki mampu menyediakan dan mendukung proses berbagi knowledge, proses dokumentasi, proses pengembangan, dan memiliki proses penggunaan knowledge yang baik, bahkan juga Anda yakini scalable dan terus mengimplementasikan proses learning dan inovasi. Namun, Anda harus membuat aplikasi yang more human dan tetap fokus pada sumber daya manusia Anda, karena knowledge is about human.